Keluarga tentu memiliki keterbatasan, perlu mitra pihak/lembaga lain dalam mendidik anak-anaknya. Maka kisah berikut ini pantas jadi rujukan. Inilah kisah teladan yang bisa kita ambil sebagai contoh dalam menjalani hidup dan kehidupan. Sesungguhnya orang-orang mulia disisi Allah, Allah akan angkat derajatnya. Lihatlah keluarga Imran ini, sampai-sampai kisahnya diabadikan dalam Al-Quran. Sesuai dengan namanya Keluarga Imran, kisah ini diceritakan dalam surat Ali Imran mulai dari ayat 33 sd. 44.
Imran merupakan bapak dari Maryam yaitu ibunda Nabi Isa A.S. Nama Imran yang sebenarnya adalah Imran bin Hasyim bin Amun. Beliau menikah dengan Hannah binti Faqud bin Qabil dan telah dikurniakan oleh Allah SWT seorang anak perempuan bernama Maryam. Mereka berdua mempunyai darah keturunan Nabi.
Imran dan keluarganya telah dimuliakan oleh Allah SWT. Lihat QS 3:33 "Allah telah memilih Adam, dan Nuh, dan keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran, di atas semua alam".
Kehidupan keluarga Imran sederhana. Mereka tinggal di perkampungan Nadharit, Palestina. Imran menyimpan hasrat untuk tinggal di Yerusalem. Beliau ingin berkhidmat di Baitul Muqaddis. Beliau pernah bermimpi menjadi pelayan rumah suci tersebut, menjaga kebersihan dan membantu kerja-kerja menjaga tempat suci itu.
Isteri Imran telah bernazar kepada Allah SWT. kiranya menerima anaknya untuk menjadi ahli Ibadat dan berkhidmat kepadaNya seperti yang terdapat dalam surah Ali Imran ayat 35: (Ingatlah) ketika isteri Imran berkata: "Tuhanku! Sesungguhnya aku nazarkan kepada-Mu anak yang ada dalam kandunganku sebagai seorang yang bebas (dari segala urusan dunia untuk berkhidmat kepada-Mu semata-mata), maka terimalah nazarku; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui."
Dari ayat ini jelas bahwa pendidikan itu dimulai jauh sebelum anak lahir, sejak pembuahan, saat mengandung, di dalam rahim sudah dipersiapkan. Apa yang harus dilakukan orangtua pada saat ini, antara lain; disamping menjaga fisik dan mental, kesehatan, ketenangan dan kesabaran. Banyak berdoa dan berharap, memohon kepada Allah SWT bahkan dalam kisah diatas isteri Imran bernazhar kepada Allah untuk menjadikan anaknya ‘muharraran’.
ORANGTUA GURU UTAMA DAN PERTAMA.
Setiap orangtua harus sadar bahwa mereka adalah guru dan pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Adapun rumah adalah sekolah pertama dan utama pula. Sebelum anak diserahkan ke lembaga pendidikan di luar rumah semestinya orangtua sudah melakukan 4 hal yaitu; 1) Menanamkan akidah (KI.1). Saat anak baru menghirup udara, lahir ke dunia, kalimah pertama yang didengarkan adalah lantunan kalimah thayyibah, senandung azan ditelinganya. Dan terus berlanjut dengan kalimah-kalimah zikir lainnya baik disaat anak terjaga atau mengantar tidurnya. 2) Menuntun sikap/prilaku atau akhlak (KI.2). Disamping bimbingan dengan ucapan yang penuh kelembutan dan kasih sayang, yang lebih utama tentu saja contoh langsung / keteladanan dari orangtua sesuai sabda Rasulullah : “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, dan banyak lagi hadits-hadits lainnya yang sangat menekankan baik masalah aqidah maupun akhlak. 3) Mengajarkan pengetahuan/ilmu (KI.3). Dalam hal ini yang harus dilakukan oleh orangtua agar anak mengetahui / mengilmui bahwa apapun yang dia katakan dan dia lakukan, bahkan yang dia pikir dan rasakan sekalipun belum diungkapkan, itu semua diketahui oleh Allah Subhanahu wata’ala yang maha Tahu, pemilik semua ilmu. Dengan cara seperti ini otomatis orangtua sudah menanamkan tauhid dan sekaligus akhlak kepada anak. Kalau anak mengetahui bahwa dia selalu dalam pengawasan Allah, maka dia akan berusaha setiap waktu berbuat baik. 4) Selanjutnya menjadikan anak-anak yang trampil (ketrampilan) dengan amal-amal shaleh (KI.4). Kalau sejak dini orangtua sudah terbiasa melakukan tiga hal diatas, maka berikutnya tinggal pembiasaan. Supaya terbiasa maka harus dilakukan berulang-ulang. Contohnya, shalat. Maka setiap hari anak benar-benar dibimbing, diarahkan, diajak bersama-sama untuk melakukan shalat, walaupun bagi dia belum merupakan sebuah kewajiban. Begitu juga dengan perbuatan-perbuatan makruf lainnya. Inilah sesungguhnya pekerjaan utama orangtua sebelum anaknya diserahkan ke lembaga pendidikan diluar rumah. Inilah yang dimaksud orangtua sebagai guru utama dan pertama dan rumah sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak.
KERJASAMA RUMAH DAN SEKOLAH.
Orangtua yang sudah menjalankan fungsi dan perannya secara benar, sesungguhnya telah menyiapkan cikal bakal anak-anaknya menjadi shaleh dan shalehah. Manakala dia mau mencari sekolah atau lembaga pendidikan pastilah dia akan berusaha mencari sesuai apa yang sudah dia lakukan terhadap anaknya semasa masih dalam bimbingan dia sepenuhnya. Tidak mungkin dia menyerahkan anaknya kepada pihak yang tidak se visi dengannya, atau misinya bertolak belakang dengan apa yang sudah dia tanamkan.
Itulah yang dilakukan Imran dan isterinya, mereka cari guru dan lembaga terbaik pada zamannya. Mereka tidak akan menyerahkan anaknya kepada sembarang guru maupun lembaga pendidikan yang tidak jelas. Mereka pasti mempelajari dan berusaha mengenal lebih dekat sekolah tempat anaknya mengenyam pendidikan. Apa visi dan misinya, siapa guru-gurunya, bagaimana programnya, apa saja keunggulannya, prestasi apa saja yang sudah diraihnya, dan sejumlah pertanyaan lainnya. Disitulah putri tercintanya Maryam diserahkan. Kita tahu bagaimana hasil produk pendidikan ini, sungguh luar biasa. Berkat kerjasama yang harmonis antara orangtua dan guru, rumah dan sekolah. Tumbuhlah Maryam sebagai anak shalehah yang tak ada bandingnya pada zamannya. Dan kisah ini diabadikan dalam kitabullah Al-Qur’an mulia.
Dalam kisah keluarga Imran ini, kita dapat memetik hikmah pembelajaran berharga :
1. Keluarga Imran ini dijadikan Allah model buat kita semua. Diangkat kisahnya dalam surah Ali Imran.
2. Keluarga ini disesajarkan penyebutannya dengan para nabi, walaupun bukan nabi, karena keshalehannya.
3. Suami-isteri yang shaleh ini ingin punya anak shaleh, dan hal ini sudah mereka persiapkan sejak anak masih dalam kandungan.
4. Anak lahir ternyata perempuan, dan mereka sadar bahwa mendidik anak perempuan dalam beberapa hal berbeda dengan anak laki-laki.
5. Sebelum diserahkan ke sekolah sudah ditanamkan sejak dini pendidikan aqidah dan akhlak mulia.
6. Kerjasama dengan lembaga pendidikan yang punya visi dan misi yang sama. Ingat, jika salah pilih; maka anak tidak jadi pintar dan juga tidak shaleh.
7. Dididik oleh seorang guru yang handal, yaitu Zakaria ‘Alaihissalam. Guru yang punya visi ingin melahirkan generasi Rabbi Radhiyya.
8. Sekolah model Zakaria ciri utamanya; Khuzil Kitaba bi Quwwah, ditambah do’a-fikir-amal semata-mata mencari ridha Allah saja.
9. Menjadi model pendidikan yang sukses, hasil kerjasama antara rumah dan sekolah/masjid (Baitul Maqdis).
10. Inilah yang dimaksud dengan : “Membina Generasi Qur’ani berbasis Masjid dan Keluarga Islami”. Motto BKPAKSI.
Tugas : Mari cari dan temukan hari ini, satu model keluarga yang hebat menurut kita, dengan berbagai kelebihan, keunggulan dan keutamaannya. Kalau ketemu, pasti kita akan mendapatkan ternyata peran orangtua sungguh luar biasa. Sebaliknya keluarga yang biasa-biasa saja, ternyata peran orangtua juga biasa-biasa saja.
Imran merupakan bapak dari Maryam yaitu ibunda Nabi Isa A.S. Nama Imran yang sebenarnya adalah Imran bin Hasyim bin Amun. Beliau menikah dengan Hannah binti Faqud bin Qabil dan telah dikurniakan oleh Allah SWT seorang anak perempuan bernama Maryam. Mereka berdua mempunyai darah keturunan Nabi.
Imran dan keluarganya telah dimuliakan oleh Allah SWT. Lihat QS 3:33 "Allah telah memilih Adam, dan Nuh, dan keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran, di atas semua alam".
Kehidupan keluarga Imran sederhana. Mereka tinggal di perkampungan Nadharit, Palestina. Imran menyimpan hasrat untuk tinggal di Yerusalem. Beliau ingin berkhidmat di Baitul Muqaddis. Beliau pernah bermimpi menjadi pelayan rumah suci tersebut, menjaga kebersihan dan membantu kerja-kerja menjaga tempat suci itu.
Isteri Imran telah bernazar kepada Allah SWT. kiranya menerima anaknya untuk menjadi ahli Ibadat dan berkhidmat kepadaNya seperti yang terdapat dalam surah Ali Imran ayat 35: (Ingatlah) ketika isteri Imran berkata: "Tuhanku! Sesungguhnya aku nazarkan kepada-Mu anak yang ada dalam kandunganku sebagai seorang yang bebas (dari segala urusan dunia untuk berkhidmat kepada-Mu semata-mata), maka terimalah nazarku; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui."
Dari ayat ini jelas bahwa pendidikan itu dimulai jauh sebelum anak lahir, sejak pembuahan, saat mengandung, di dalam rahim sudah dipersiapkan. Apa yang harus dilakukan orangtua pada saat ini, antara lain; disamping menjaga fisik dan mental, kesehatan, ketenangan dan kesabaran. Banyak berdoa dan berharap, memohon kepada Allah SWT bahkan dalam kisah diatas isteri Imran bernazhar kepada Allah untuk menjadikan anaknya ‘muharraran’.
ORANGTUA GURU UTAMA DAN PERTAMA.
Setiap orangtua harus sadar bahwa mereka adalah guru dan pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Adapun rumah adalah sekolah pertama dan utama pula. Sebelum anak diserahkan ke lembaga pendidikan di luar rumah semestinya orangtua sudah melakukan 4 hal yaitu; 1) Menanamkan akidah (KI.1). Saat anak baru menghirup udara, lahir ke dunia, kalimah pertama yang didengarkan adalah lantunan kalimah thayyibah, senandung azan ditelinganya. Dan terus berlanjut dengan kalimah-kalimah zikir lainnya baik disaat anak terjaga atau mengantar tidurnya. 2) Menuntun sikap/prilaku atau akhlak (KI.2). Disamping bimbingan dengan ucapan yang penuh kelembutan dan kasih sayang, yang lebih utama tentu saja contoh langsung / keteladanan dari orangtua sesuai sabda Rasulullah : “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, dan banyak lagi hadits-hadits lainnya yang sangat menekankan baik masalah aqidah maupun akhlak. 3) Mengajarkan pengetahuan/ilmu (KI.3). Dalam hal ini yang harus dilakukan oleh orangtua agar anak mengetahui / mengilmui bahwa apapun yang dia katakan dan dia lakukan, bahkan yang dia pikir dan rasakan sekalipun belum diungkapkan, itu semua diketahui oleh Allah Subhanahu wata’ala yang maha Tahu, pemilik semua ilmu. Dengan cara seperti ini otomatis orangtua sudah menanamkan tauhid dan sekaligus akhlak kepada anak. Kalau anak mengetahui bahwa dia selalu dalam pengawasan Allah, maka dia akan berusaha setiap waktu berbuat baik. 4) Selanjutnya menjadikan anak-anak yang trampil (ketrampilan) dengan amal-amal shaleh (KI.4). Kalau sejak dini orangtua sudah terbiasa melakukan tiga hal diatas, maka berikutnya tinggal pembiasaan. Supaya terbiasa maka harus dilakukan berulang-ulang. Contohnya, shalat. Maka setiap hari anak benar-benar dibimbing, diarahkan, diajak bersama-sama untuk melakukan shalat, walaupun bagi dia belum merupakan sebuah kewajiban. Begitu juga dengan perbuatan-perbuatan makruf lainnya. Inilah sesungguhnya pekerjaan utama orangtua sebelum anaknya diserahkan ke lembaga pendidikan diluar rumah. Inilah yang dimaksud orangtua sebagai guru utama dan pertama dan rumah sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak.
KERJASAMA RUMAH DAN SEKOLAH.
Orangtua yang sudah menjalankan fungsi dan perannya secara benar, sesungguhnya telah menyiapkan cikal bakal anak-anaknya menjadi shaleh dan shalehah. Manakala dia mau mencari sekolah atau lembaga pendidikan pastilah dia akan berusaha mencari sesuai apa yang sudah dia lakukan terhadap anaknya semasa masih dalam bimbingan dia sepenuhnya. Tidak mungkin dia menyerahkan anaknya kepada pihak yang tidak se visi dengannya, atau misinya bertolak belakang dengan apa yang sudah dia tanamkan.
Itulah yang dilakukan Imran dan isterinya, mereka cari guru dan lembaga terbaik pada zamannya. Mereka tidak akan menyerahkan anaknya kepada sembarang guru maupun lembaga pendidikan yang tidak jelas. Mereka pasti mempelajari dan berusaha mengenal lebih dekat sekolah tempat anaknya mengenyam pendidikan. Apa visi dan misinya, siapa guru-gurunya, bagaimana programnya, apa saja keunggulannya, prestasi apa saja yang sudah diraihnya, dan sejumlah pertanyaan lainnya. Disitulah putri tercintanya Maryam diserahkan. Kita tahu bagaimana hasil produk pendidikan ini, sungguh luar biasa. Berkat kerjasama yang harmonis antara orangtua dan guru, rumah dan sekolah. Tumbuhlah Maryam sebagai anak shalehah yang tak ada bandingnya pada zamannya. Dan kisah ini diabadikan dalam kitabullah Al-Qur’an mulia.
Dalam kisah keluarga Imran ini, kita dapat memetik hikmah pembelajaran berharga :
1. Keluarga Imran ini dijadikan Allah model buat kita semua. Diangkat kisahnya dalam surah Ali Imran.
2. Keluarga ini disesajarkan penyebutannya dengan para nabi, walaupun bukan nabi, karena keshalehannya.
3. Suami-isteri yang shaleh ini ingin punya anak shaleh, dan hal ini sudah mereka persiapkan sejak anak masih dalam kandungan.
4. Anak lahir ternyata perempuan, dan mereka sadar bahwa mendidik anak perempuan dalam beberapa hal berbeda dengan anak laki-laki.
5. Sebelum diserahkan ke sekolah sudah ditanamkan sejak dini pendidikan aqidah dan akhlak mulia.
6. Kerjasama dengan lembaga pendidikan yang punya visi dan misi yang sama. Ingat, jika salah pilih; maka anak tidak jadi pintar dan juga tidak shaleh.
7. Dididik oleh seorang guru yang handal, yaitu Zakaria ‘Alaihissalam. Guru yang punya visi ingin melahirkan generasi Rabbi Radhiyya.
8. Sekolah model Zakaria ciri utamanya; Khuzil Kitaba bi Quwwah, ditambah do’a-fikir-amal semata-mata mencari ridha Allah saja.
9. Menjadi model pendidikan yang sukses, hasil kerjasama antara rumah dan sekolah/masjid (Baitul Maqdis).
10. Inilah yang dimaksud dengan : “Membina Generasi Qur’ani berbasis Masjid dan Keluarga Islami”. Motto BKPAKSI.
Tugas : Mari cari dan temukan hari ini, satu model keluarga yang hebat menurut kita, dengan berbagai kelebihan, keunggulan dan keutamaannya. Kalau ketemu, pasti kita akan mendapatkan ternyata peran orangtua sungguh luar biasa. Sebaliknya keluarga yang biasa-biasa saja, ternyata peran orangtua juga biasa-biasa saja.



0 Komentar