طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم
artinya: mencari ilmu adalah kewajiban bagi orang islam...(hr ibnu hibban dengan riwayat yang shahih).
ada kata yang ganjil menurut saya dari hadits nabi saw ini, yaitu pemakaian kata "faridhotun" :wajib. seharusnya cukup "fardhun" sebagai "khobar dari "tholabul ilmi" yang menjadi "mubtada' dengan bentuk mudzakar" , tapi kenapa khobarnya dengan bentuk "muannats", ada tambahan "tun": ta' marbutho? (bagi pemula yang belajar nahwu shorof agak susah nyerna), dalam ilmu "balaghoh" ini disebut "shighot muballaghoh" yakni bentuk kalimat yang punya makna "*mensangatkan*" atau teramat sangat wajib sekali bagi kita umat islam untuk mencari ilmu.
waktu pertama ngaji dipesantren NU, pertama kali kita akan diajari kitab "ta'lim muta'allim", dan pasti ketemu hadits ini, juga bagi yang pernah ikut bermajlis di aktifis JI:jamaah islamiyah, hadits ini juga yang pertama kali disuguhkan sebelum ayat atau hadits tentang jihad.
ini menunjukkan betapa pentingnya mencari ilmu sebagai hidayah dari alloh, bahkan tidak perlu hadits ini ada jika kita sudah menyadari pentingnya ilmu.. ya hadits itu buat yang masih malas mengaji, atau yang sudah merasa banyak ilmunya sehingga tidak perlu tambahan lagi.
lebih-lebih sebagai aktifis dakwah, yang mana masyarakat secara luas hanya butuh "ilmu"/tambahan pengetahuan untuk memantabkan imannya, maka sangat penting menyempatkan diri untuk bermajlis/mengaji pada seorang guru yang mumpuni.
belajar dari kasus-kasus dekadensi moral seperti kasus yuyun, eno yang diperkosa dan dibunuh dengan cangkul, bayi yang diperkosa dibogor, atau kasus "koko" dari kediri yang memperkosa sebanyak 58anak dibawah umur..
ilmu kita terhenti sampai disini dan tidak mampu berbuat apa-apa, itu tanda betapa rendah ilmu kita sehingga tidak nyambung dan tidak tahu harus berbuat apa?, lhoo itukan urusan negara bukan urusan kita remaja masjid? sampai andaikan anak-anak kita diperkosa apakah kita akan bertanya siapa yang paling layak bertanggung jawab? sementara negara hanya memenjarakan mereka beberapa tahun dan malah menghabiskan anggaran negara..
harusnya kita berkumpul tidak hanya membahas program atau sambil menunggu proyek pemerintah jika ada.. tapi juga mengaji berdiskusi masalah keummatan, memperjelas fitnah ghozwul fikri yang terjadi.. agar anak cucu kita merasakan jariyah kita suatu saat.
melihat teman2 BKPRMI yang mulai semangat berorganisasi tentu memotivasi sy juga untuk berbkprmi lebih semangat..
bertemu dengan banyak orang baik, dengan keahlian baca quran yang mumpuni, senantiasa bermuwajahah dengan ustadz2 yang lebih senior disini.. ust ali, ust mim, dan lain lain..
tentu ada batas keilmuan yang dimiliki oleh penghuni bkprmi ini.. apalagi di dpw.. yang saya ketahui hanya linier di gerakan baca tulis alquran dan dunia pendidikan.. konsentrasi penuh didua hal tersebut dan bisa disebut sangat "profesional"
bkprmi itu remas, bagi alloh kita disebut "takmir masjid" /pemakmur masjid.. dan salah satu syaratnya adalah "walam yakhsya illalloh": tidak ada yang ditakuti kecuali alloh...
kenapa alloh memakai kata "yakhsya"/takut bagi seorang pemakmur masjid? padahal ditempat lain yang bisa takut kepada alloh hanyalah "ulama"?
sahabat! kita pasti senang dan bangga menganggap diri kita sebagai pemakmur masjid berwadah bkprmi.. tapi.. cobalah melihat diri sendiri.. sudahkah memenuhi syaratnya? jika belum.. ayo mengaji sebanyak-banyaknya.. diberbagai disiplin ilmu sampai kita merasa ditahap "tidak ada yang kita takuti selain alloh" ..agar gerakan kemasjidan ini dirasakan oleh umat islam.. dan menjadikan masjid sebagai satu2nya "the post energi for moslem" ...
nabi adam as berhadapan dengan iblis, nabi ibrahim berhadapan dengan namrudz, dawud dengan thalut, musa as dengan firaun, isa as dengan penguasa yahudi, nabi muhammad saw bermusuhan dengan penguasa kafir quraisy... ah iya itu nabi terlalu jauh ukurannya bagi kita..
bagaimana dengan para wali dinusantara ini yang katanya berdakwah dengan santun berbudaya? kerajaan giri kedhaton (sunan giri) berperang dengan majapahit, kemudian dengan restu para wali raden patah menggempur majapahit yang pada akhirnya berakhirlah kejayaan agama hindu budha berganti dengan islam sampai hari ini..
sejatinya itu bukan permusuhan person vs person, tapi hakikinya adalah pergulatan antara yang hak dan batil, yang senantiasa beriringan sampai kiamat kelak. hari ini yang batil begitu masiv terang-terangan bangkit tanpa rasa malu melawan kebenaran, bahkan kita menyaksikan pergumulan antara hak dan batil menjadi satu.. orang kafir bisa masuk kemasjid berceramah, orang kafir dipersilahkan menjadi motivator remaja masjid..
ada yang harus direnungkan oleh kita para pemakmur masjid jika suatu saat negara ini dikuasai oleh orang kafir, mau jadi apa agama ini jika pimpinan tertinggi malah dipimpin orang kafir? sementara kita membiarkan ratusan anggota organisasi ini tak tentu arahnya, jika kita tidak merasa berdosa dengan hal tersebut, maka marilah kita tanyakan kembali dimana iman kita dan apa tujuan agama ini diamanahkan pada kita sebagai pemeluknya.?
mau tidak mau kita harus belajar berpolitik/kekuasaan agar negara ini tetap menjamin keamanan kenyamanan ibadah kaum muslimin di indonesia tercinta.
wallohu a'lam bis showab
(imam fauzi / DPW BKPRMI JATIM)



0 Komentar