Masjid Kanjeng Jimat Tertua Di Nganjuk
Nganjuk - Eksplorasi wisata religi BKPRMI kali ini singgah di masjid tua Al Mubarok Nganjuk yang dibangun pada tahun 1745 oleh Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sosro Koesoemo atau Kanjeng Jimat yang merupakan Adipati Berbek pertama yang ditunjuk oleh Kraton Yogyakarta saat itu. Kamis 12/3/2021
Masjid ini masih tegak berdiri tepatnya sembilan kilometer arah selatan Kota Nganjuk tepatnya berada di Desa Kacangan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk yang menyimpan sejarah penyebaran agama Islam, dan juga diwarnai cerita mistis soal "bedug ajaib"
Masjid Al Mubarok ini awalnya dibangun dan berdiri menggunakan atap ijuk dan berlantai katel (campuran tanah liat dan kapur), Sementara itu konstruksi bangunan menggunakan kayu jati tanpa paku.
Masjid ini sempat mengalami dua kali renovasi pada 1950 dan1985. Renovasi dilakukan dengan memugar ruang induk, kedua serambi serta pembangunan menara setinggi 10 meter.
Meski mengalami pemugaran, namun arsitektur asli masjid masih dipertahankan, yaitu perpaduan bangunan Hindu, Islam dan Cina.
Terlihat dari beberapa benda, seperti Lingga Yoni yang difungsikan sebagai jam matahari penunjuk waktu sholat. Selain itu, pintu masuk berupa gapura ukiran buto (raksasa) berhias bunga. Sedangkan mimbarnya, berukiran khas Jawa.
Masjid yang berdiri di atas lahan 2.835 meter ini menggunakan model tajuk kayu bulat. Tiang penyangga menjulang ke ujung dan bagian serambi menggunakan atap limasan. Bagian atap bangunan utama berundak tiga tingkat dan terdapat sebuah mahkota.
Sebelum memasuki ruang utama, terdapat bedug besar yang konon memiliki cerita mistis. Bedug ini pernah dua kali dipindahkan ke Masjid Jami’ di depan Alun-alun Nganjuk. Anehnya, bedug tersebut seperti tidak mau dan selalu kembali lagi ke Masjid Al-Mubarok, pagi harinya.
Tidak ada satupun yang tahu siapa yang membawanya kembali ke Masjid Al-Mubarok. Padahal, selain jarak Masjid Jami' ke Masjid Al-Mubarok lebih dari 4 kilometer, Lantaran peristiwa itu, hingga kini bedug tersebut tidak pernah dipindah lagi.
Selain arsitektur unik dan cerita mistis soal bedug, ada beberapa peninggalan benda kuno yang masih terjaga. Diantaranya batu asah yang digunakan untuk mengasah alat-alat pertanian, seperti sabit, kapak, cangkul, dan pisau pada jaman dahulu.
Dari catatan sejarah dan cerita turun temurun, masjid ini dibangun pasca meletusnya perang Pangeran Diponegoro atau setelah perjanjian Gianti.
Selain menjadi masjid tertua di Nganjuk, Masjid Al Mubarok juga menjadi cikal bakal penyebaran agama Islam di Kota Angin yang dulu penduduknya masih mayoritas beragama hindu.



0 Komentar